Pages

Labels

Selasa, 17 Juli 2012

Album Perjuangan John Mayer

Beberapa lagu John Mayer dari album terdahulu memang merupakan lagu favorit saya, tapi alasan utama membeli album baru milik penyanyi kelahiran 16 Oktober 1977 ini bukan karena itu.

Adalah rasa penasaran yang membuat saya pergi ke toko musik untuk mendapatkan album berjudul “Born and Raised” ini. Tepatnya, penasaran ingin tahu bagaimana hasil rekaman album yang terbilang penuh perjuangan tersebut. Penuh perjuangan?

Saat sedang menyelesaikan album ini pada September tahun lalu, tersiar kabar bahwa John sedang berjuang melawan granuloma — radang tenggorokan serius — yang mengancam pita suaranya. Akibatnya, pengerjaan album terhambat. Jadwal rilis yang semula direncanakan akhir tahun 2011 lalu harus ditunda sampai sekitar pertengahan tahun 2012.

Bahkan meskipun tahun lalu sudah dioperasi, pada Maret 2012 lalu, granuloma itu ternyata muncul kembali dan membuat John harus membatalkan tur promosi album ke-5 miliknya ini. Untunglah (kalau boleh disebut demikian) ketika gangguan itu kembali hadir, album ini sudah selesai dibuat sehingga tidak tertunda lagi peluncurannya.

Kualitas isi album baru ini sendiri tampaknya tidak terkena dampak dari gangguan itu. Tidak seperti yang sempat saya khawatirkan, suara John Mayer terdengar masih tetap khas seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda mengalami gangguan akibat radang tenggorokan serius. Syukurlah.

Dominasi corak musik country dan blues di album ini sudah langsung menyeruak sejak lagu pertama “Queen of California” mengalun. Kemudian disambung dengan “The Age of Worry” yang berirama mars dan tentunya “Shadow Days”. Lirik “Shadow Days” memang cukup sendu, tapi tetap cocok dipasang sebagai lagu andalan karena iramanya mudah membuat siapa saja langsung terpikat saat pertama kali mendengarkannya.

Yang menarik, sejumlah nama musisi kondang ternyata ikut terlibat di album yang diproduseri John Mayer bersama Don Was ini. Sebut saja seperti David Crosby dan Graham Nash yang turut mengisi vokal di lagu “Born and Raised”, sebuah lagu yang kental dengan unsur country dan folk.

Ada juga Chris Botti yang memainkan trompet di lagu berjudul panjang, “Walt Grace's Submarine Test, January 1967” dan Sara Watkins mengisi vokal sekaligus bermain biola di “A Face to Call Home”.

Selain itu, sejumlah lagu lain macam “Speak for Me”, “If I Ever Get Around To Living”, “Love is A Verb”, dan “Whiskey, Whiskey, Whiskey” layak dinikmati. Beberapa di antaranya terbilang punya potensi besar jadi lagu yang meledak selanjutnya.

Banyak juga ya lagunya yang menarik? Jika didengarkan sekilas saja, mungkin hanya satu atau dua lagu saja dari album ini yang langsung memikat. Tapi cobalah memainkannya beberapa kali. Akan terasa bahwa sebenarnya rata-rata tembang yang diusung kali ini enak dinikmati.

Sudah begitu, isi album ini tidak hanya berbicara soal cinta saja tapi juga sisi kehidupan lainnya. Contohnya, soal kesendirian di “Whiskey, Whiskey, Whiskey” atau mengenai ilmuwan gila dan kapal selam buatannya sendiri di lagu “Walt Grace's Submarine Test, January 1967”.

Dalam hal lagu tentang cinta pun, liriknya tidak terjebak untuk mengulang sesuatu yang itu-itu saja. Apa yang diungkapkannya terasa berbeda dan lebih bermakna, meskipun itu soal keresahan atau kegalauan hati. Hal itu yang membuat album ini semakin menarik.

I’m a good man with a good heart
Had a tough time, got a rough start
But I finally learned to let it go
(“Shadow Days”)

0 comments:

Posting Komentar